Olah Raga

Jemparingan, Olahraga Panahan Bernuansa Seni Budaya

625
×

Jemparingan, Olahraga Panahan Bernuansa Seni Budaya

Sebarkan artikel ini

Gunungkidulpos – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melaui Dinas Kebudayaan terus berupaya untuk memperkenalkan olahraga bernuansa kan budaya.

Jemparingan sebagai olahraga panahan khas Kerajaan Mataram Berbeda dari panahan pada umumnya. Sambil berdiri, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila dan tradisi ini masih dilestarikan diwilayah Kabupaten Gunungkidul.

Penggiat Jemparing di Gunungkidul, Tukiman menjelaskan asal usul Jemparingan di Kesultanan Yogyakarta, atau dikenal sebagai Jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak kesatria.

Sehubungan dengan pembentukan watak sawiji itulah maka Jemparingan tampak sangat berbeda dengan panahan lain yang berfokus pada kemampuan pemanah untuk membidik target dengan tepat.

Pemanah Jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam kondisi bersila, namun juga tidak membidik dengan mata.

Busur diposisikan mendatar di hadapan perut sehingga bidikan panah didasarkan pada perasaan pemanah.

Seiring dengan perkembangan zaman, Jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta pun berkembang. Hingga kini terdapat berbagai cara memanah ataupun bentuk sasaran yang dibidik.

“Semuanya tetap berpijak pada filosofi awal Jemparingan sebagai sarana latihan konsentrasi dan tidak meninggalkan cara memanah sambil duduk bersila,” katanya saat ditemui Wartawan di Komplek Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Jumat (27/9/2024).

Berkaitan dengan upaya pelestarian Jemparingan gaya Mataram tersebut, pihanya bersama dengan Dinas Kebudayaan Gunungkidul terus berupaya untuk mengenalkan Jemparing kepada masyarakat.

“Pelatihan Jemparing diikuti ratusan orang dari berbagai unsur. Ini sekaligus untuk pengenalan awal Jemparing kepada masyarakat,” ujarnya.

Tukiman menambahkan, sebagai upaya pelestarian olahraga Jemparing, pihaknya pun juga akan menggelar
Gladhen (lomba) Jemparingan.

Perlombaan Jemparing tersebut akn diikuti lbih dari 200 peserta dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-194.

“Dengan kegiatan ini diharapkan Gladhen Jemparingan akan menjadi salah satu daya tarik masyarakat untuk terus melestarikan kekayaan budaya leluhur,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Chairul Agus Mantara mengatakan bimbingan teknis yang dilakukan melalui Gladen Jemparing tersebut merupakan sebuah internalisasi warisan budaya tak benda yang dimiliki oleh masyarakat Gunungkidul.
Guna untuk melestarikan hal itu, pihaknya telah menggelar bimbingan teknis Jemparing dari tiga tahun yang lalu.

“Oleh karena itu, kita kembangkan kita bangkitkan menjadi sebuah destinasi wisata olahraga tradisional. Karena kedepan kita akan membuat kantong-kantong obyek wisata yang berbasis kebudayaan. Seingga Jemparingan ini akan menjadi salah satu kegiatan yang menarik untuk menambah kekayaan budaya,” pungkasnya. (Byu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *