
Gunungkidulpos.com – Wonosari – Persoalan kesehatan jiwa menjadi salah satu tantangan serius yang membutuhkan perhatian lintas sektor di Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan data yang disampaikan dalam peluncuran Program Pembangunan Kesejahteraan Holistik (PPKH), terdapat sekitar 2.500 Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan 30 peristiwa bunuh diri di wilayah Kabupaten Gunungkidul.


Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Maria Endang Sumiwi, dalam peluncuran Program Pembangunan Kesejahteraan Holistik (PPKH) di Kabupaten Gunungkidul, Rabu (28/10/2026).
Maria mengungkapkan, angka peristiwa bunuh diri di Gunungkidul ternyata lebih tinggi dibandingkan data awal yang diterimanya. Dari sebelumnya tercatat lima kasus, data yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan jumlahnya telah mencapai 30 peristiwa.
“Nah selain itu tentunya karena sudah ada, kalau di Gunungkidul ini kalau nggak salah 2.500 ODGJ, kemudian data saya 5 tadinya untuk bunuh diri di Gunungkidul, ternyata data Mas Anum 29, ternyata data Ibu Bupati 30. Jadi sudah ada 30 peristiwa mengakhiri hidup di Gunungkidul,” ungkap Maria.
Menurutnya, pembangunan kesehatan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada penanganan orang yang sudah sakit. Pemerintah mulai menggeser pendekatan kesehatan menuju upaya pencegahan agar masyarakat dapat menjalani kehidupan yang lebih berkualitas.
Ia menjelaskan, perubahan tersebut sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang nasional menuju Indonesia Maju 2045. Dalam konteks kesehatan, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari upaya menyelamatkan nyawa, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat hidup sehat dan berkualitas.
“Tetapi untuk Indonesia Maju, tidak meninggal saja tidak cukup, hidupnya harus berkualitas. Maka kita berubah dari sektor kesehatan, berubah sama sekali, jadi harus mewujudkan hidup sehat,” jelasnya.
Maria juga memaparkan bahwa persoalan kesehatan jiwa ditemukan pada berbagai kelompok usia. Berdasarkan pemetaan Kementerian Kesehatan, masalah kesehatan jiwa bahkan masuk dalam 10 besar persoalan kesehatan di seluruh tahapan siklus kehidupan. Pada kelompok usia muda, persoalan tersebut menempati peringkat pertama.
Untuk mendeteksi permasalahan sejak dini, Kementerian Kesehatan mulai memasukkan skrining kesehatan jiwa dalam sejumlah layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan ibu hamil, pascapersalinan, pemantauan tumbuh kembang balita, pemeriksaan kesehatan anak sekolah, hingga Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat dewasa dan lanjut usia.
Dari hasil pemeriksaan terhadap sekitar 500 ribu ibu hamil di Indonesia, ditemukan sekitar 15 persen menunjukkan gejala depresi. Sementara pada ibu nifas, angkanya mencapai 13 persen. Adapun kecenderungan menyakiti diri sendiri tercatat sekitar satu persen, baik pada ibu hamil maupun ibu nifas.
Sementara itu, hasil skrining kesehatan jiwa pada anak sekolah melalui CKG menunjukkan gejala depresi sebesar 6,9 persen. Pada pemeriksaan masyarakat umum, angkanya mencapai 3,8 persen. Gejala kecemasan pada anak sekolah tercatat enam persen, sedangkan pada kelompok umum sebesar 3,8 persen.
Maria menegaskan, deteksi dini diperlukan agar masyarakat yang mengalami persoalan kesehatan jiwa bisa mendapatkan penanganan sebelum kondisinya berkembang lebih serius.
Selain pengobatan secara medis, dukungan keluarga dan lingkungan sosial juga dinilai memiliki peran penting dalam proses pemulihan ODGJ. Ia mencontohkan, pasien yang telah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa tetap membutuhkan pendampingan ketika kembali ke lingkungan keluarga.
“Jadi kan kita mengerti kalau keluarga memasung, karena keluarga harus mencari nafkah. Kalau tidak dipasung nanti bagaimana? Nah akses untuk pengobatan karena itu Puskesmas harus terus memperbaiki dan memastikan 30 Puskesmas di Gunungkidul ini obat ada terus. Yang kedua adalah dukungan keluarga,” paparnya.
Ia berharap penguatan layanan kesehatan primer serta keterlibatan keluarga dan masyarakat dapat membantu mengatasi persoalan kesehatan jiwa di Gunungkidul, termasuk mencegah praktik pemasungan dan peristiwa bunuh diri.
Reporter: Alvianita S. Imelda















