Berita

Sempat Viral Tak Miliki Seragam Sekolah, Kini Kurniawan Punya Seragam Baru

169
×

Sempat Viral Tak Miliki Seragam Sekolah, Kini Kurniawan Punya Seragam Baru

Sebarkan artikel ini

Gunungkidulpos.com – Saptosari – Muhammad Kurniawan, siswa kelas VII SMP Negeri 2 Saptosari, yang sempat menjadi sorotan karena bersekolah tanpa seragam SMP, kini mendapat perhatian dari pihak sekolah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Kurniawan belum mampu memiliki seragam seperti teman-temannya sejak awal tahun ajaran.

Kurniawan tinggal bersama keluarganya di Padukuhan Ngondel Wetan, RT 04/RW 06, Kalurahan Krambilsawit, Kapanewon Saptosari. Ayahnya, Suranto (50), mengungkapkan bahwa keterbatasan biaya menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan seragam sekolah anak ketiganya tersebut.

Suranto mengaku harus membagi penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada saat yang sama, dua anaknya juga berencana mengikuti kegiatan piknik sekolah sehingga pengeluaran keluarga semakin bertambah.

“Awalnya gini, pembayarannya kan agak mahal. Terus anak-anak saya kan mau piknik, dua orang yang mau piknik. Jadi pembayarannya agak berat untuk beli seragamnya untuk Kurniawan,” ungkap Suranto, Kamis (29/10/2026).

Sejak masuk sekolah pada Juli 2026, Kurniawan masih mengenakan seragam SD. Kondisi tersebut berlangsung hampir satu semester karena Suranto belum memiliki cukup uang untuk membeli seragam SMP yang dibutuhkan anaknya.

Menurut Suranto, biaya untuk membeli seragam lengkap diperkirakan mencapai Rp1 juta. Karena belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut, ia mencari alternatif dengan memanfaatkan seragam bekas pemberian tetangga yang masih layak pakai.

“Kalau kemarin pengarahannya ada pembelian, tapi saya keberatan. Jadi saya alihkan, dikasih bekas dari tetangga, masih bagus, dikecilkan,” jelasnya.

Perhatian dari pihak sekolah mulai diberikan pada Rabu (28/10/2026) sore. Suranto mengatakan bahwa seorang guru datang ke rumahnya untuk mengantarkan seragam. Keesokan harinya, Kamis (29/10/2026) pagi, kepala sekolah juga berkunjung dengan membawa tas sekolah dan mengajak Kurniawan ke tukang jahit. Biaya penjahitan seragam tersebut turut ditanggung oleh kepala sekolah.

“Kemarin sore Bu Guru ke sini bawa seragam, tadi pagi kepala sekolahnya juga ke sini bawa tas juga dan ke tukang jahit biaya jahit dari kepala sekolah juga. Katanya dikasih, bukan beli,” tutur Suranto.

Meski pihak sekolah telah mempersilakannya menyampaikan keluhan apabila mengalami kesulitan, Suranto mengaku selama ini memilih diam. Ia merasa sungkan untuk mengutarakan kondisi yang dihadapi keluarganya.

“Pesannya kepala sekolah kalau ada keluhan suruh bilang ke sekolah. Tapi saya nggak berani, nggak enak, beda pergaulan,” katanya.

Suranto menuturkan bahwa Kurniawan tidak menunjukkan rasa malu meskipun harus bersekolah dengan mengenakan seragam SD. Menurutnya, sang anak tetap bersemangat untuk belajar dan bersekolah seperti biasa.

“Kalau ditanya adiknya malu apa nggak pas nggak pakai seragam, anaknya biasa saja, cuma pengen sekolah. Kalau saya sebenarnya ada rasa kasihan, tapi mau gimana lagi, bingung, tergantung keadaan,” ujarnya.

Selain persoalan seragam, Suranto juga mengungkapkan bahwa bantuan sosial yang sebelumnya diterima keluarganya sudah tidak aktif dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebutkan bahwa bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dahulu terdaftar atas namanya. Sementara itu, Kurniawan belum pernah menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) selama bersekolah di SMP.

Saat masih duduk di bangku SD, Kurniawan sempat memperoleh buku tabungan PIP satu atau dua kali. Namun, menurut Suranto, bantuan tersebut tidak lagi diterima keluarganya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suranto kini bekerja sebagai pedagang bakwan kawi di Jepara. Pekerjaan tersebut baru dijalaninya selama beberapa bulan setelah sebelumnya bekerja di luar Pulau Jawa. Akibatnya, ia harus tinggal jauh dari keluarga dan tidak bisa pulang ke rumah secara rutin.

Suranto memiliki empat anak. Kurniawan merupakan anak ketiga yang selama ini diasuh oleh neneknya setelah ibunya pulang ke kampung halaman ketika Kurniawan berusia tiga tahun.

Di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi, Suranto berharap anaknya dapat terus bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Harapannya biar anak saya jadi orang sukses dan jadi orang baik. Kalau ingin mengejar yang jauh biayanya nggak ada,” pungkasnya.

Reporter: Alvianita S. Imelda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *