Berita

Sri Sultan Dorong Pramuka DIY Ambil Peran dalam Swasembada Pangan

41
×

Sri Sultan Dorong Pramuka DIY Ambil Peran dalam Swasembada Pangan

Sebarkan artikel ini

Gunungkidulpos.com – Wonosari – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mendorong Gerakan Pramuka untuk mengambil peran aktif dalam mendukung swasembada pangan menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikan saat memimpin Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 di Alun-Alun Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Sri Sultan, tema Hari Pramuka ke-65 tahun ini, yakni “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, sangat relevan dengan kondisi Gunungkidul yang selama ini dikenal memiliki daya juang tinggi dalam menghadapi keterbatasan sumber daya alam.

“Kita berhimpun hari ini di bumi Gunungkidul yang mengajarkan keteguhan. Karst, musim kemarau panjang, dan keterbatasan air telah menjadi guru bagi masyarakat. Dari tanah seperti inilah manusia belajar bahwa daya tahan tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan,” kata Sri Sultan.

Ia kemudian mengajak peserta apel untuk merefleksikan nilai-nilai kepramukaan yang pernah disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Kongres Kepanduan Tingkat Dunia di Tokyo pada tahun 1971.

“Pramuka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang baik, tetapi juga manusia pembangunan yang andal. Sehingga tepat kiranya apabila Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 dengan tema memantapkan langkah organisasi mendukung swasembada pangan menuju Indonesia Emas 2045 menemukan tempatnya di sini,” ujarnya.

Sri Sultan menilai Gerakan Pramuka DIY dapat menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan Lumbung Mataraman yang menghidupkan kembali fungsi pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

“Mangan opo sing ditandur, nandur opo sing dipangan. Makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan. Bukan semboyan kosong, itu adalah tata hidup yang membuat keluarga tidak bergantung pada apa yang jauh dan tidak resah oleh apa yang tak pasti,” tuturnya.

Menurut Sri Sultan, semangat tersebut perlu dihidupkan kembali melalui pengetahuan yang membumi dan dapat dipraktikkan masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa seragam cokelat Pramuka memiliki makna kedekatan dengan tanah sebagai sumber kehidupan.

“Seragam cokelat yang kalian kenakan mengingatkan pada warna tanah. Tanah menerima benih dalam diam lalu mengembalikannya menjadi kehidupan. Maka seorang Pramuka hendaknya juga mencintai tanah tempat pangan tumbuh. Cinta itu harus menjelma menjadi tindakan, menjaga bumi, menghemat air, menghormati petani, dan menanam pangan. Inilah kepanduan yang relevan dengan zaman,” ungkapnya.

Sri Sultan menegaskan bahwa langkah-langkah sederhana yang dilakukan anggota Pramuka dapat menjadi kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.

“Ketika anak-anak Pramuka menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, atau mengajak sesama tidak membuang makanan, mereka sedang ikut menjaga masa depan bangsa. Langkah itu mungkin kecil, namun tidak perlu berkecil hati. Sejarah sering dibangun dengan satu langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Benih kecil dapat menjadi pohon, satu gugus depan dapat menjadi contoh bagi banyak orang,” katanya. (Alvianita S. Imelda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *