Gunungkidulpos.com – Wonosari – Di balik besarnya potensi pariwisata, pertanian, perikanan, dan UMKM yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul, namun masih menghadapi persoalan serius di bidang kesehatan. Tingginya kasus bunuh diri, angka penyakit degeneratif, hingga minimnya tenaga medis menjadi tantangan yang membutuhkan penanganan bersama.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengungkapkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dilakukan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak. Menurutnya, sejumlah persoalan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani.
“Namun, di balik potensi tersebut, Gunungkidul menghadapi tantangan besar terkait masalah kesehatan mental (kasus bunuh diri) dan krisis air bersih.” ungkap Bupati Endah saat diskusi bersama Universitas Diponegoro (Undip) di Rumah Dinas Bupati Gunungkidul, Jumat (21/8/2026).
Persoalan kesehatan mental menjadi perhatian khusus. Saat ini Gunungkidul bahkan menjadi perhatian pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sebagai proyek percontohan penanggulangan bunuh diri di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, memaparkan bahwa hingga pertengahan tahun 2026 tercatat 25 kasus bunuh diri. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yang mencapai 27 kasus.
Selain itu, kondisi kesehatan masyarakat juga masih menghadapi tantangan berat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, prevalensi stunting di Gunungkidul mencapai 15,6 persen. Sementara hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan tingginya kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan stroke.
“Masalah kesehatan mental ini diperparah dengan temuan penyakit degeneratif yang tinggi, di mana hasil pemeriksaan menunjukkan prevalensi hipertensi di atas 50%, diabetes melitus (DM) di atas 20%, dan kasus stroke mencapai 85%.” papar Ismono.
Tingginya angka penyakit tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, termasuk hemodialisa atau cuci darah. Namun di sisi lain, fasilitas kesehatan di Gunungkidul masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia.
Kekurangan tenaga medis terjadi mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit. Kebutuhan dokter umum, dokter gigi, tenaga laboratorium, hingga tenaga klinis masih cukup tinggi. Di RSUD Wonosari yang berstatus rumah sakit kelas B, sejumlah dokter spesialis dan subspesialis juga masih belum tersedia.
Kondisi tersebut semakin berat karena saat ini Gunungkidul hanya memiliki satu dokter spesialis jiwa, sehingga pelayanan kesehatan mental dan kebutuhan surat keterangan rohani masih sangat terbatas.
“Pemerintah daerah berharap melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, kekurangan SDM ini dapat tertutupi melalui program magang, residensi senior, maupun beasiswa spesialis bagi dokter umum.” kata Kepala Dinas Kesehatan.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) menyatakan kesiapan untuk membantu melalui berbagai program pengabdian masyarakat dan penguatan layanan kesehatan.
Dekan Fakultas Kedokteran Undip, Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, menyebut pihaknya memiliki tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari spesialis urologi, bedah digesti, ahli gizi, keperawatan holistik, hingga psikiatri.
Menurutnya, kekuatan tim psikiatri Undip dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan depresi dan persoalan kesehatan mental yang masih tinggi di Gunungkidul, baik melalui kegiatan di masyarakat maupun penugasan di rumah sakit.
“Sebagai solusi jangka pendek untuk mengatasi kekurangan dokter di RSUD, Undip menawarkan skema pengiriman PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) senior atau “residensi senior”.” kata dr. Yan.
Melalui skema tersebut, dokter peserta pendidikan spesialis yang telah memasuki tahap senior dapat membantu pelayanan medis di rumah sakit dengan supervisi, sehingga diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan sekaligus mempercepat penanganan pasien di Gunungkidul. (Alvianita S. Imelda)
















